Saturday, October 18, 2014

Pantai Indah Bengkulu Tetapi Memprihatinkan


Sebanyak 16 pantai di Provinsi Bengkulu mengalami abrasi dan perlu segera dilakukan tindakan penyelamatan. Abrasi yang terjadi pada 16 pantai itu sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Sebagian besar pantai yang kondisinya kritis itu berada di sepanjang jalan lintas barat (Jalinbar) Bengkulu, sehingga jika tidak segera dilakukan penanganan dikhawatirkan jalan lintas barat pada ruas Bengkulu - Lampung dan Bengkulu - Sumbar akan terancam putus. Abrasi pantai tersebut juga mengancam keberadaan obyek wisata pantai, karena sebagian besar dari pantai tersebut seperti Pantai Berkas Tapak Padri merupakan obyek wisata andalan Kota Bengkulu. Jika abrasi itu tidak segera ditanggulangi, maka akan mengancam permukiman penduduk disepanjang pantai, karena pada beberapa pantai jaraknya dengan permukiman penduduk hanya dua meter.

 



Pada tahun 2012 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) usulkan dua pengaman pantai di Bengkulu. Pembangunan pengaman pantai sangat penting mengingat tingkat abrasi pantai yang tinggi di Bengkulu khususnya pada pantai barat. Dua bangunan pengaman pantai yang diusulkan adalah pembangunan Jetty dan perbaikan tanggul di daerah muara air Bengkulu dan pantai sungai hitam - Pondok Kelapa.
            Pantai Barat Sumatera merupakan pantai lepas yang berhubungan dengan Samudera Indonesia yang bergelombang cukup besar sehingga mengakibatkan abrasi lima meter per tahun di Bengkulu. Abrasi ini menimbulkan kerusakan pada permukiman dan jalan-jalan nasional. Untuk itu, Kementerian PU telah membangun pengaman pantai di Bengkulu sejak dua dekade lalu.
            Ada beberapa cara penanggulangan abarasi pantai, baik melalui penanaman maupun melalui teknologi.
A.    Penanggulangan Abrasi Pantai dengan Penanaman

1.      MANGROVE
Mangrove atau disebut juga bakau adalah istilah umum yang digunakan untuk pohon-pohon yang tumbuh di tanah berlumpur, terbuka, dan tanah basah di daerah tropika yang terkena pasang surut. Mangrove merupakan vegetasi khas zona pantai, floranya berhabitus semak hingga pohon besar dengan tinggi mencapai 50-60 meter. Karena posisinya maka hutan mangrove menjadi daerah transisi antara daratan dan lautan. Secara fisik, mangrove berperan sebagai penghalang dari serangan gelombang dan badai. Hutan mangrove dapat berfungsi mencegah abrasi dan dapat menambah luas pantai.

Pohon mangrove memiliki akar yang kuat dan berlapis-lapis sehingga dapat meredam hantaman ombak  dan mematahkan tenaga gelombang badai serta mempercepat pengendapan lumpur yang di bawa air sungai di sekitarnya. Sistem perakaran yang khas pada tumbuhan mangrove berupa akar tunjang, pneumatofor, dan akar lutut, dapat menghambat arus air laut dan ombak.


2.      CEMARA DAN KETAPING
Rehabilitasi kawasan pantai yang kritis menggunakan pohon cemara dan ketaping  sudah pernah dilakukan di Kabupaten Muko – Muko, Provinsi Bengkulu. Sepanjang 98 kilometer kawasan pesisir pantai di daerah itu membentang mulai dari kecamatan Air Rami hingga kecamatan kota Muko – Muko. Kegiatan rehabilitasi kawasan hutan pantai yang rusak di daerah itu bertujuan untuk pengamanan guna mencegah bencana alam terutama abrasi pantai yang mengurangi daratan.


B.    Penanggulangan Abrasi Pantai dengan Teknologi
Cukup banyak teknologi pengamanan abrasi pantai yang dapat dipergunakan, baik teknologi umum sederhana  sampai dengan teknologi canggih, seperti bangunan pengamanan pantai dengan blok beton, pengisian pasir, penggunaan bangunan krib, tipe rouble mound, tembok laut dan revetment.
           Pelindung pantai  berupa armour stone atau beton mempunyai  kelemahan, yaitu tidak ekonomis apa bila dilaksanakan pada daerah-daerah pantai berpasir yang terpencil, serta terbatas infrastrukturnya maupun sumber material konstruksi. Selain itu, teknologi ini dapat mengganggu pemandangan serta menyulitkan aktifitas masyarakat di pantai.
Pelindung pantai berupa pemecah ombak dibuat berupa bangunan beton atau tumpukan batu-batu besar yang menjorok ke laut. Pemecah gelombang ini ditempatkan berjejer dalam jumlah banyak di sepanjang pantai terutama pada pantai yang mempunyai gelombang  laut cukup besar. Sama dengan tembok beton, cara ini tidak ekonomis terutama karena harga material bangunan berupa batu besar sangat mahal.
            Salah satu cara untuk mengatasi masalah keterbatasan infrastruktur dan sumber material untuk pembuatan beton pelindung adalah penggunaan kantong pasir sebagai penahan gelombang. Kelebihan kantong pasir sebagai penahan  gelombang adalah sedikit dalam penggunaan material, dapat dilaksanakan dengan peralatan terbatas serta dapat memanfaatkan material setempat,  tidak mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan, tidak terlalu mengganggu kegiatan masyarakat, serta tidak menggangu pemandangan di daerah wisata.
       Pembuatan kantong pasir dapat dilakukan secara sederhana dengan cara memasukkan pasir ke dalam karung-karung plastik bekas maupun baru. Karung-karung ini dapat berbentuk guling atau bantal. Selanjutnya disusun bertumpuk rapi dan berjejer di pinggir pantai.