Sebanyak 16 pantai di
Provinsi Bengkulu mengalami abrasi dan perlu segera dilakukan tindakan
penyelamatan. Abrasi yang terjadi pada 16 pantai itu sudah pada tingkat
mengkhawatirkan. Sebagian besar pantai yang
kondisinya kritis itu berada di sepanjang jalan lintas barat (Jalinbar) Bengkulu,
sehingga jika tidak segera dilakukan penanganan dikhawatirkan jalan lintas
barat pada ruas Bengkulu - Lampung dan Bengkulu - Sumbar akan terancam
putus. Abrasi
pantai tersebut juga mengancam keberadaan obyek wisata pantai, karena sebagian
besar dari pantai tersebut seperti Pantai Berkas Tapak Padri merupakan obyek
wisata andalan Kota Bengkulu. Jika abrasi itu tidak segera ditanggulangi, maka akan mengancam permukiman
penduduk disepanjang pantai, karena pada beberapa pantai jaraknya dengan
permukiman penduduk hanya dua meter.
Pada tahun 2012 Kementerian
Pekerjaan Umum (PU) usulkan dua pengaman pantai di Bengkulu. Pembangunan pengaman
pantai sangat penting mengingat tingkat abrasi pantai yang tinggi di Bengkulu
khususnya pada pantai barat. Dua bangunan
pengaman pantai yang diusulkan adalah pembangunan Jetty dan perbaikan tanggul di daerah muara air Bengkulu dan pantai
sungai hitam - Pondok Kelapa.
Pantai Barat
Sumatera merupakan pantai lepas yang berhubungan dengan Samudera Indonesia yang
bergelombang cukup besar sehingga mengakibatkan abrasi lima meter per tahun di
Bengkulu. Abrasi ini menimbulkan kerusakan pada permukiman dan jalan-jalan
nasional. Untuk itu, Kementerian PU telah membangun pengaman pantai di Bengkulu
sejak dua dekade lalu.
Ada beberapa cara
penanggulangan abarasi pantai, baik melalui penanaman maupun melalui teknologi.
A. Penanggulangan
Abrasi Pantai dengan Penanaman
1. MANGROVE
Mangrove atau disebut juga bakau adalah istilah umum yang digunakan untuk
pohon-pohon yang tumbuh di tanah berlumpur, terbuka, dan tanah basah di daerah
tropika yang terkena pasang surut. Mangrove merupakan vegetasi khas zona
pantai, floranya berhabitus semak hingga pohon besar dengan tinggi mencapai
50-60 meter. Karena
posisinya maka hutan mangrove menjadi daerah transisi antara daratan dan
lautan. Secara fisik, mangrove berperan sebagai penghalang dari serangan
gelombang dan badai. Hutan mangrove dapat berfungsi mencegah abrasi dan dapat
menambah luas pantai.
Pohon mangrove memiliki akar yang kuat dan berlapis-lapis sehingga dapat
meredam hantaman ombak dan mematahkan tenaga gelombang badai serta
mempercepat pengendapan lumpur yang di bawa air sungai di sekitarnya. Sistem
perakaran yang khas pada tumbuhan mangrove berupa akar tunjang, pneumatofor, dan akar lutut, dapat menghambat
arus air laut dan ombak.
2.
CEMARA DAN KETAPING
Rehabilitasi kawasan pantai yang kritis menggunakan pohon cemara dan
ketaping sudah pernah dilakukan di
Kabupaten Muko – Muko, Provinsi Bengkulu. Sepanjang 98 kilometer kawasan
pesisir pantai di daerah itu membentang mulai dari kecamatan Air Rami hingga
kecamatan kota Muko – Muko. Kegiatan rehabilitasi kawasan hutan pantai yang
rusak di daerah itu bertujuan untuk pengamanan guna mencegah bencana alam
terutama abrasi pantai yang mengurangi daratan.
B. Penanggulangan
Abrasi Pantai dengan Teknologi
Cukup banyak teknologi pengamanan abrasi pantai yang dapat dipergunakan,
baik teknologi umum sederhana sampai dengan teknologi canggih, seperti
bangunan pengamanan pantai dengan blok beton, pengisian pasir, penggunaan
bangunan krib, tipe rouble mound, tembok laut dan revetment.
Pelindung
pantai berupa armour stone atau beton mempunyai kelemahan,
yaitu tidak ekonomis apa bila dilaksanakan pada daerah-daerah pantai berpasir
yang terpencil, serta terbatas infrastrukturnya maupun sumber material
konstruksi. Selain itu, teknologi ini dapat mengganggu pemandangan serta menyulitkan
aktifitas masyarakat di pantai.
Pelindung pantai berupa pemecah ombak dibuat berupa bangunan beton atau
tumpukan batu-batu besar yang menjorok ke laut. Pemecah gelombang ini
ditempatkan berjejer dalam jumlah banyak di sepanjang pantai terutama pada
pantai yang mempunyai gelombang laut cukup besar. Sama dengan tembok
beton, cara ini tidak ekonomis terutama karena harga material bangunan berupa batu besar sangat mahal.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah keterbatasan infrastruktur dan
sumber material untuk pembuatan beton pelindung adalah penggunaan kantong pasir
sebagai penahan gelombang. Kelebihan kantong pasir sebagai penahan
gelombang adalah sedikit dalam penggunaan material, dapat dilaksanakan dengan
peralatan terbatas serta dapat memanfaatkan material setempat, tidak
mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan, tidak terlalu mengganggu kegiatan
masyarakat, serta tidak menggangu pemandangan di daerah wisata.
Pembuatan kantong pasir dapat dilakukan
secara sederhana dengan cara memasukkan pasir ke dalam karung-karung plastik
bekas maupun baru. Karung-karung ini dapat berbentuk guling atau bantal.
Selanjutnya disusun bertumpuk rapi dan berjejer di pinggir pantai.
